Teringat
masa kecil ku, kau peluk dan kau manja. Indahnya saat itu, membuat ku melambung
disisimu terngiang. Hangat napas segar harum tubuhmu ...........
Entah
mengapa tiba tiba pikiranku melambung pergi ke masa kecil ku, saat lagu itu
terdengar merdu di telingaku lagu itu seperti bermain dan meloncat loncat di
pikiranku membuat aku selalu rindu akan masa kecilku.
“jangan main terus di kali sayang,
nanti kalo ujan pasti banjir”
“ngga kok, ntar klo udah gerimis aku
langsung pulang bu” jawab ku santai kepada ibu
Aku
langsung keluar rumah dan bertemu dengan teman teman ku yang sedang ada di
lapangan sekolah. Kebetulan aku tinggal di rumah dinas Orangtua ku.
“Nia jadi ga maen ke kali? Ayo dong
cepetan” tanyaku senang kepada teman sepantaranku.
Aku
selalu senang jika bermain di kali entah lah seperti menemukan dunia sendiriku,
rumah dinasku dekat dengan kali yang berada tepat di belakang sekolahan tempat
Ayahku mengajar. Hampir setiap hari sehabis aku pulang sekolah aku selalu
bermain di kali sampe sore datang. Hasilnya kulitku pun yang tadinya putih
menjadi sawo matang, tetapi itu tidak membuatku kapok untuk bermain di kali
bersama teman teman seusiaku.
Entah
mengapa setiap hujan pun aku sangat senang, aku langsung berlari keluar rumah
dan bermain di bawah tetes demi tetes air hujan yang turun ke bumi. Aku merasa
seperti menari bersama air yang turun. Seperti mempunyai sesuatu yang sangat
membuatku terbang ke awan bersamanya.
"Nandaaaa,
pulang. Nanti masuk angin"
"Bentar
ahhh, lagi seru bu"
"Ayo
sini, jangan ngeyel kalo di bilangin" kata ibuku
Dengan
wajah cemberut dan kecewa aku pun pulang ke rumah
"Iya
bu"
Setiap
bermain hujan hujanan, aku selalu di buatkan teh hangat agar aku tidak
kedinginan. Aku duduk di dekat jendela ruang tamu sambil melihat teman teman ku
yang masih bermain di bawah air hujan itu.
"Bu,
aku masih mau maen"
"Udah
sore, besok aja de" kata ibu ku sambil menyisirkan rambut panjangku yang masih
basah itu.
Kata
ibu dan ayah, waktu umurku baru sebulan aku di tinggalkan di rumah sendiri
karena mereka belum menemukan pengasuh untuk menjagaku. Untung saja rumah dinas
ayah dan tempat mengajarnya berhadapan jadi setiap aku menangis ayah langsung
pulang untuk mengecek ku. Kadang aku juga dibawa ke kelas waktu ayah mengajar.
Ibu
terpaksa meninggalkanku karena masa cutinya di tempat kerja sudah habis, dan
tidak mungkin membawaku karena tempat kerjanya yang terlalu jauh dari rumah.
Jika teman ayahku tidak ada jadwal mengajar, dia dengan senang hati menjagaku
saat aku berumur sebulan.
Karena
merasa kasian terhadapku, tetangga depan rumahku menawarkan diri untuk
mengasuhku. Kebetulan tetanggaku sudah 2 tahun menikah tetapi belum di karuniai
anak. Ibu mengatakan bahwa saat itu dia sangat lega, akhirnya akupun ada yang
menjaganya. Beberapa bulan mengasuhku, teteh mendapatkan keturunan. Aku
memanggilnya dengan teteh, karena dia terlampau masih muda.
Sampai
saat ini aku masih dekat dengan teteh dan suaminya. Aku sangat menyayangi
mereka seperti kedua orangtua ku sendiri. Rumah mereka seperti rumah keduaku.
Jika aku liburan panjang, aku slalu menyempatkan untuk menginap di rumahnya.
Anak mereka pun seperti adik ku sendiri.
"Kamu
ga mau punya ade nan?
"Mauuuuuu"
jawabku dengan penuh antusias
"Emang
mau adik laki laki apa perempuan?" Tanya ibu
"Aku
mau adik perempuan terus kembar yaa bu"
aku
sangat antusias ketika ibu ku hamil lagi. Sampai umurku beranjak 6 tahun aku
belum memiliki adik kembali. Selama 6 tahun itu, pun aku seperti anak tunggal
yang slalu diharapkan keluargaku menjadi anak yang bisa diandalkan. Adik
perempuan kembar adalah harapanku waktu itu, entah mengapa sepertinya akan
sangat asik jika langsung memiliki adik dua dan perempuan. Aku jadi bisa
memiliki teman bermain. Bisa main masak masakan bareng, main salon salonan
bareng dan aku pun juga bisa mengdadani adik perempuanku itu.
Sebenernya
ayah dan ibu hanya ingin memiliki satu anak saja, tetapi mereka berpikir jika
aku sudah dewasa nanti dan mereka sudah tidak ada aku akan sendirian dan tidak
mempunyai saudara lagi. Mereka kasian kepadaku, jika hal itu benar benar
terjadi pada ku.
Saat
ibu hamil aku sangat senang, aku menjaga ibu agar kandungannya tidak apa apa.
Berharap ibu segera melahirkan, dan aku akan mempunyai adik kembar sekaligus. Sudah
banyak hal yang ada dipikiranku untuk segala hal yang akan aku lakukan bersama
adikku.
“aku pokoknya mau adik perempuan
terus kembar ya bu”
“kalo ga kembar gimana?”
“pokoknya harus kembar, aku pengen
ade kembar”
“apa aja sayang, yang penting
adiknya nanti sehat ya”
Setelah
beberapa bulan, ibu pun melahirkan adikku. Ayah menemani ibu saat melahirkan,
sementara aku dititipkan di rumah teteh. Aku belum menengok ibu selama beberapa
hari dan belum mengetahui adikku kembar atau tidak. Di pikiranku hanyalah ibu
baik baik saja, dan aku ingin cepat cepat kembali ke rumah.
“tehhhh, ayo kita ke ibu”
“ntar mbak, nunggu faqih pulang dulu
ya”
“cepet ya teh”
Sambil
menunggu faqih pulang aku bermain dengan nia di lapangan kompleks ku. Mencari
buah ceri di pohon adalah kebiasaan ku selain bermain di kali bersama nia.
Biasanya Nia yang memanjat pohon dan aku mengarahakanny dari bawah pohon karena
aku tidak bisa memanjat pohon. Saat sedang asik bermain Faqih pulang melewati
lapangan.
“faqihh..........” teriak ku
“apa mbak?”
“ayo ke rumah sakit, aku udah
nungguin dari tadi”
Aku
sangat senang karena akan segera beretemu dengan adik baruku.
“Nia, aku pergi dulu yaa. Besok kita
maen lagi”
“iya, hati hati ya. Salam buat ade
kamu”
“dahh......”
Aku
berlari menuju rumah dan bersiap siap ke rumah sakit.
Sampai
di rumah sakit aku langsung menemui ibu
“Nanda, sini. Ini adenya”
memanggilku ketika aku baru datang.
Aku
menghampiri ibu dan adik bayiku yang berada di sebalahnya. Tiba tiba raut
mukaku berubah, akau langsung melangkah mundur menjauhi ibuku. Ada rasa kecewa
yang sangat amat mendalam di diriku. Rasa yang membuatku ingin menangis, apa
yang aku harapkan selama ini tidak ada yang tercapai satupun. Semuanya.
“jangan cemberut terus dong” kata
ayah
“kenapa adenya ga kembar yah? Kenapa
ade nya laki laki?”
“Tuhan ngasihnya ade laki laki
sayang, biar bisa jagain kamu”
“tapi kan aku pengennya perempuan”
“laki atau perempuan kan sama aja.
Yang penting adenya sehat”
“tapi buu...” jawabku dengan kecewa
“yang penting kita semua sehat
sayang. Kamu, ayah, ibu sama ade”
Seminggu
kemudian ibu diperbolehkan pulang, adikpun akhirnya pulang ke rumah. Aku mulai
merasakan kasih sayang ayah dan ibu tidak seperti dulu. Sekarang semuanya
tercurahkan ke adik, perhatian, waktu, kasih sayang, dan segala prioritas
mereka hanya untuk adik baruku.
“buu, aku mau es krim”
“kamu beli sendiri yaa, itu uangnya
disitu”
“tapi bu, aku maunya beli sama ibu,
temenin ya”
“sendiri ya nan, ibu kan harus
jagain adik”
Kecewa,
satu kata yang waktu itu kau rasakan. Semuanya seperti tidak menganggapku
sekarang. Adiku seperti magnet yang menarik mereka semua untuk menjauhiku. Aku
benci dengan adik, benci akan kehadiran dia untuk saat ini. Aku tidak ingin
punya adik. Aku tidak mau. Aku ingin menjadi anak satu sataunya. Aku ingin
smeuanya kembali seperti dulu. Aku merasakan ini tidak adil, mereka lebih
memilih adik. Apa mereka lupa dengan aku? Apa mereka tidak ingit bahwa ada aku
di rumah?
“bu, aku pinjam sisir sama gunting
dong” mintaku kepada ibu
“ini sayang”
Aku
sisir rambut lurusku yang sepinggang itu, sekarang sudah jarang sekali ibu
menyisiri rambutku. Dahulu sehabis mandi atau bermain ibu pasti selalu
menyisiri rambutku lalu mengikatnya.
“aku bosen, nia ga ada dirumah”
Tiba
tiba saja sebuah ide datang kepadaku. Gunting yang aku pinjam ke ibu aku ambil
kembali. Entah mengapa aku mempunyai pikiran seperti itu, yang membuatku
menyesal sampai sekarang. Aku potong sedikit demi sedikit. Potongannya aku
simpan di lubang dan aku tutup dengan batu.
“sudah beres, hahah” kataku kepada
diri sendiri
Lalu
lalu mengembalikan sisir kepada ibu. Ibu mulai curiga kepadaku. Karena aku
hanya mengembalikan sisir saja.
“loh, guntingnya mana nand? Terus
itu kamu sembunyiin apa?”
“bukan apa apa kok bu”
“ayo sini, coba ibu liat”
Ibu
menghampirin ku, tetapi aku menghindar. Ibu semakin curiga aku menyembunyikan
apa di tanganku. Aku pun meyerah dan mengembalikan guntingnya kepada ibu. Raut
wajah ibu pun seketika berubah melihat bekas bekas yang menempel pada gunting
itu.
“sini nan, ibu liat coba rambut
kamu”
“ngga mau bu”
“sini, ibu mau liat doang kok”
Aku
pasrah.
“yampun nand, ini rambut kamu.
Yampun”
Iya,
rambutku aku potong seperti anak laki laki. Tinggal sisa rambut panjangku
dibagian tengah yang tidak aku potong. Aku menyesal sampai saat ini, karena
ulahku sewaktu kecil dulu rambutku sekarang menjadi kriting padahal dulunya
rambutku lurus. Ibu juga sempat heran mengapa aku bisa seperti itu, padahal aku
tidak pernah berbuat macam macam sebelumnya.
Semenjak
itu rambutku slalu dipotong pendek seperti laki laki. Hingga kelas 6 SD aku
biarkan rambutku panjang kembali, karena teman teman perempuanku berambut
panjang semua.
Semasa
SD aku mempunyai kecemasan dan ketakutan terhadap pelajaran bahasa inggris.
Bagiku pelajaran bahasa ingris sangat menakutkan. Entah, aku seperti benci akan
pelajaran itu. Mungkin karena aku dari kecil tidak terbiasa mendengarkan orang
berbicara bahasa inggris.
Setiap
besoknya akan ulangan bahasa inggris, aku pulang sekolah pasti badanku akan
panas tinggi. Sampai sampai guru bahasa inggrisku akan hapal, jika ulangan
pasti aku tidak akan masuk karena sakit. Alhasil aku selalu mengikuti ulangan
susulan, dan yang pasti nilai ulanganku tidak akan pernah lebih dari 6.
“kamu kenapa si nand, pasti sakit
kalo besok ulangan inggris?”
“takut bu” jawab ku singkat
“takut kenapa?”
“aku ga ngerti bahasa inggris,
bahasa inggris susah. Kenapa harus ada inggris si bu?”
Tanya
ku kesal kepada ibu.
“nanti
kalo kamu kerja, kamu pasti pake bahasa inggris. Ga usah takut nand, kamu harus
hadepin. Kamu harus bilang kamu bisa. Kamu harus yakin sayang”
Aku
hanya menghela napas, pasrah dengan keadaan bahwa bahasa inggris adalah bahasa
yang di anggap orang orang seperti bahasa yang penting. Aku berpikir, padahal
kita tingal di negara Indonesia, mempunyai bahasa sendiri. Kenapa tetap ada
bahasa inggris? Aku benci dengan bahasa inggris
Dari
kelas 1 sampai kelas 4 nilai pelajaranku tidak begitu bagus, hanya sekedar pas
pasan. Sebenarnya aku bisa mengikuti semua pelajaran. Hanya saja terkadang aku
malas untuk belajar, aku hanya menarik perhatian orangtua ku lewat nilai nilai
ku yang pas pasan. Agar kedua orangtuaku lebih memperhatikan ku di banding
adikku. Sampai kelas 4 pun perkalian matematika aku masih tidak bisa, padahal
teman teman seusiaku sudah lancar dan hapal perkalian. Bahkan mereka bisa
mengerjakan perkalian seratus. Sedangkan aku perkalain sampai sepuluh saja
tidak hapal.
Saat
kelas 4, wali kelasku menerapkan tempat duduk berdasarkan nilai ulangan. Baris
paling kiri akan diisi anak paling pandai, baris kedua diisi anak pandai, baris
ketiga di isi anak yang lumayan pandai dan baris terakhir akan diisi anak yang
biasa saja. Dari situ aku mulai termotivasi untuk belajar, karena teman teman
dekatku berada di barisan paling kiri. Wali kelasku pun mempunyai cara
tersendiri untuk membuat muridnya belajar. Yaitu dengan setiap murid membuat
soal sebanyak 20 soal, maka murid tersebut akan mendapatkan kartu yang sudah di
beri tanda tangan, dan annti akan dikumpulkan dan di hitung pada setiap akhir
semester. Murid yang mendapatkan kartu paling banyak maka dia akan mendapatkan
hadiah dari wali kelas ku. Hal itu membuat ku semakin giat belajar, karena aku
dan teman temannku bersaing untuk mendapatkan kartu lebih banyak.
Saat
kelas 5 SD aku sangat lemah di matematika, namun guru ku memberikan pengajaran
yang membuat ku lebih paham jika di jelaskan olehnya. Aku akui semua pelajaran
dan nilai nilai ku selalu tergantung pada bagaimana guruku mengajar. Apakah aku
senang dengan guru tersebut jika dia mengajar, apakah dia enak jika memberikan
pelajaran. Jika tidak maka nilaiku akan sudah di pastikan akan pas pasan atau
bahkan akan mendapatkan di bawah KKM.
“nand, ajarin gw ini dong”
“yang mana? Kalo gw bisa ya” jawabku
“yang ini nand, yang no 3” pinta
Alice
“oh yang ini, jadi lu ccari luasnya
dulu terus.......”
Mengajarkan
teman ku adalah salah satu cara ku untuk belajar, setiap temanku ada yang minta
diajarkan aku dengan senang hati membantunya hitung hitung aku mengulang
kembali pelajaran yang sudah aku terima. Dengan begitu aku tidak akan lupa
tentang apa yang sudah aku pelajari, dan temanku juga akan mengerti tentang apa
yang diminta untuk aku ajarkan.
Beranjak
kelas 6, dimana angakatan ku seluruh Indonesia diterapkan sistem baru pada UN
nya, yaitu terdapat 5 soal yang berbeda setiap ruangan. Aku dan teman teman ku
cemas, karena dengan 5 paket soal itu kemungkinan berbagai macam soal yang
muncul akan beragam. Dari situ aku mulai semangat, kebetulan di sekolah SD ku
dulu diterapkan semua siswa siswi kelas 6 wajib mengikuti pelajaran tambahan.
Di
pelajaran tambahan itu semua guru mata pelajaran yang pelajarannya akan di
ujiankan memberikan soal yang berbeda beda setiap minggunya. Terkadang aku
putus asa, karena banyak soal yang belum sepenuhnya ku kuasai. Aku takut soal
tersebut akan kembali muncul di UN yang akan aku hadapi nanti.
Rasa
takut itu semakin menjadi ketika hari UN semakin dekat, aku takut nilai yang
aku dapat tidak membuat kedua orangtua ku bangga dan senang melihat nilai yang
aku dapatkan. Aku takut mereka kecewa dengan hasil yang aku dapatkan.
Tetapi
aku bersyukur hasil yang aku dapatkan tidak begitu buruk. Bahkan matematika ku
mendapatkan nilai 9, dan yang lainnya pun juga. aku sangat bersyukur kepada
Tuhan. Karena dengan usaha ku bisa membuat kedua orangtua ku setidaknya bisa
bangga dengan usahaku sendiri
“nand sini dulu” panggil ibu
“kenapa bu?”
“sini, kalo di panggil ya dateng
toh”
Aku
pun menghampiri ibu
“kenapa bu?” tanya ku lagi
“ini buat kamu”
“apa ini bu? Terima kasih ya” kataku
senang
Aku
membuka kotak yang di di berikan ibuku. Ternyata sebuah jam tangan yang sangat
lucu. Ibu membelikannya sebahagai hadiah karena nilaiku lumayan memuaskan.
Selama
SMP pun aku mendapatkan 10 besar pada kelas 7 dan kelas 8, pada kelas 9 nilaiku
menurun dan tidak mendapatkan 10 besar. Mungkin karena kau sudah sering bermain
dengan teman teman sekolahku sepulang sekolah hingga sore. Aku merasakan banyak
sekali perubahan dalam diriku dari kelas 7 dan kelas 9. Yang tadinya saat kelas
7 aku rajin sekali belajar dan rajin bertanya, pada saat kelas 9 aku jarang
sekali untuk bertanya.
“sheila, kelas lu ulangan mandarin
udah di periksa belom?”
tanya
ku pada salah satu teman di kelas sebelah
“udahh, nih malah udah di bagiin ke
kitanya lagi”
“pinjem dong sheil”
Dengan
muka senang aku kembali ke kelas.
Hari
itu merupakan ulangan mandarin, di sekolahku mandarin adalah pelajaran lokal
yang di berikan kepada kami. Tujuannya agar kami mengerti bahasa lain selain
bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
“catet soalnya, baru kerjakan”
“iya laoshi” jawab semua teman
kelasku kompak
Benar
dugaanku, semua yang diberikan soalnya sama persis dengan kelas sebelah. Aku
dan teman sebelahku langsung menyalin jawaban sheila ke kerta ulanganku.
“kalo gini terus si nilai mandarin
kita bagus nand” kata teman ku
Aku
hanya membalasnya dengan tertawa, sebenarnya ada rasa tidak enak dan bersalah
dalam diri ku. Aku mendapatkan nilai 100 dengan curang, sementara temanku yang
belajar tidak mendapatkan nilai yang memuaskan.
“nih mau liat ga? Kasih ke belakang
kalo udah”
“mau dongg”
Aku
memberikan kertasnya kepada teman barisanku di belakang
“gitu kek nand dari tadi”
“yakan gw catet dulu tadi”
“ahhh tau gitu gw tadi juga pinjem
kelas sebelah” katanya menyesal
“yehh siapa suruh, ahhaha”
“ahhh yaudah sini cepet”
10
menit kemudian barisan ku dan barisan di sebelah ku sudah beres semua.
Rencananya
setelah UN, anak kelas 9 akan mengadakan prom night untuk acara perpisahan
kami. Namun semua itu hampir gagal, akibat pemerintahan kota Bogor yang
melarang semua sekolah untuk tidak mengadakan prom night sama sekali.
“tahun kalian kita ga bisa ngadain
prom night” kata guruku sehabis mengajar
“tapi buu, ga bisa gitu dong. Kan
kita pengen ada perpisahan” jawab salah satu temanku
“bukan soal dilarang. Waktu dan dana
untuk prom night juga tidak ada.
Kalian kan bulan depan sudah study
tour, lalu kalian akn fokus ke UN.
Tidak
mungkin mencari dana yang banyak selama sebulan itu” guru ku menjelaskan
Terlihat
raut muka semua teman temanku yang kecewa akan keputusan sekolah ini. Karena
prom night adalah salah satu acara sekolah yang paling kita tunngu tunggu
selama berada di SMP. Dan kami semua merasa bahwa ini tidak adil, hanya karena
peraturan dan alasan itu kami tidak dapat merayakan kelulusan kami bersama”
“ehh, kita bikin panitia sendiri aja
yu” usul salah satu temanku
“hah? Maksud lu gimana si?” tanya
teman teman ku yang lain
“ya kita cari dana sendiri, kita bis
ajualan, ngumpulin barang bekas kan?
Minta sponsor bwt prom kita,
pokoknya kita harus usaha.” Jelas temanku
“nekat nih kita?” tanya ku
“iya!” jawab teman teman ku semnagat
Akhirnya
kami membentuk panitia sendiri untuk acara prom night tersebut, guru mulai
curiga dengan kegiatan kita mengumpulkan dana. Lambat laun guru guru pun tau
kegiatan kita untuk mencari dana. Dengan pertimbangan yang banyak, kami di
perbolehkan mencari dana aslakan tidak mengganggu belajar kami untuk UN nanti.
Kami pun giat mencari dana karena dana yang kami butuhkan tidaklah sedikit,
bahkan terlampau besar untuk anak anak seusia kami.
“yaelah cuman untung 150 ribu hari
ini kita” kata panitia bendahara
“kalo setiap hari cuman segitu si,
gimana mau kekumpul dana kita” jawab ku
“kita harus nyari ide lain nih, kita
ga bisa andelin ini doang sama sponsor.
Sponsor
aja ga ngasih kabar sampai sekarang” kata ketua panitia
tiba
tiba guru bahsa inggris kami datang, Beliau sudah seperti teman kami sendiri.
Karena beliau menganggap murid muridnya seperti temannya jika di luar kelas.
Banyak teman teman ku juga yang terkadang curhat dengannya.
“dapet berapa hari ini?” tanya nya
kepada kami
“cuman 150 ribu nih bu, kecil
banget. Mereka jual ke kitanya gede, jadi
kita
ambil untungnya dikit” jawab temanku
“ibu
punya ide, giman kalo kalian bawa bahan bahan buat makaroni.
Bahannya
dari kalian iklhas ya. Dari uang kalian masing masing.
Itu
anggap sebagai modal kalian awal, jadi kalian ga usah ngeluarin
uang
lagi buat modal. Besok ibu tunggu di dapur sekolah, jangan lupa
bahan
bahannya bawa” katanya
kami
yakin apa ide beliau pasti akan menjadi ide yang tidak sia sia. Ke esokan
harinya kami datang dan membawa bahan bahan yang di mintanya. Beliau langsung
ke dapur sekolah dan mengajari kami membuat makaroni panggang.
“nih, kalian pelajarin ya. Jadi
besok kalo ibu ngajar kalian bisa buat sendiri”
Makaroni
panggang yang kami buat tepat sekali dengan bel istiraht adik adik kelas kami.
Kami hanya membuat beberpa puluh buah saja, kami takut kalo hasilnya tidak
terlalu memuaskan. Dengan cemas kami menjualnya kepada adik kelas, kami takut
mereka tidak suka dan jualan kami tidak laku. Namun yang dipikirkan kami
terbalik dengan kenyataanya, belum 5 menit kami berjualan semuanya sudah habis
terjual. Bahkan banyak yang iningin membeli tetapi makaroninya sudah habis.
Hasil makaroni mencapai 450 ribu, hasilnya pun menjadi modal awal kami untuk
membeli bahan bahan selanjutnya. Dari hasil berjualan kami itu dalam beberapa
hari kami sudah mendapatkan uang yang lumayan besar, namun masih jauh dari dana
yang kami targetkan. Kami pun mencari dan alain dengan menjual baju baju bekas
yang masih layak pakai, mencari botol botol minum untuk kami jual kembali dan
meminta banyuan dana kepada orangtua.
Hasil
yang kami dapatkan pun lumayan, bahkan sudah melebihi target yang kami
targetkan. Kami pun menyiapkan segala sesuatu untuk prom. Aku dan teman temanku
terpaksa harus pulang larut malam untuk menyiapkan ini semua. Namun aku yakin,
pasti akan ada hasil yang memuaskanuntuk kerja keras kita selama ini. Karena
kami sudah berjanji dan memegang tanggung jawab yang di berikan guru guru kami.
UN
pun kami lalu bersama dengan keyakinan bahwa hasil yang kami dpatkan nilainya
akan memuaskan dan tidak mengecewakan kami. Karena kami telah berjanji bahwa
acara prom night ini tidak akan mengganggu kami selama menghadapi UN. Aku
sendiri sedikit ragu pada hasil ujianku pada mata pelajaran IPA. Karena aku
memang tidak begitu tertarik terhadap pelajaran IPA.
Setelah
beberapa minggu kami menunggu hasil ujian, akhirnya hari pengumuman kelulusan
pun datang. Aku sudah meliahat pegumunan sebelumnya di radar Bogor, dan seluruh
murid di sekolahnku lulus 100 % hanya saja kami khawatir dengan nilai kami.
Kami takut nilai kami jelek dan itu membuat acara rom night yang sudah kami
rencana kan ini di batalkan oleh kepala sekolah. Karena kepala sekolahku adalah
kepala sekolah yang lumayan tegas dan akan mengambil keputusan yang kadang kala
tidak pernah kami duga sebelumnya.
“selamat ya kalian lulus 100 %,
hasil ujian akan ada beberapa minggu lagi” jelas guru bidang kurikulum ku
Dengan
raut wajah yang senang kami semua pulang ke rumah dengan perasaan yang lega.
Begitu pun denganku. Aku bisa mnegerjakan UN dengan usaha ku sendiri dan dengan
hasil yang tidak sia sia.
Prom
night yang kami rencana pun akhirnya tiba. Kami semua tidak sabar dengan prom
night yang telah kami buat dengan usaha dan kerja keras kami sendiri. Aku
mengikuti acara demi acara yang sudah dibuatkan panitia pada prom night, aku
sangat menikmati apa yanga da pada prom night tersebut. Tidak sia sia semua
yang sudah kami lakukan semua ini, mungkin hanya panitia saja yang lelah dengan
persiapan ini, dengan segala masalah yang ada dari beberapa panitia yang keluar
karena idenya tidak di gunakan. Aku sadar masalah sekecil itu pun dapat menjadi
masalah yang sangat besar jika tidak di tangani.
Selama
liburan UN aku sudah mendaftar di salah satu SMA swasta di Bogor, dengan
mengikuti tes masuk dan awancara akhirnya aku pun di terima masuk di sekolahan
tersebut. SMA ku di kenal sebagai salah satu SMA yang tata tertibnya sangat
ketat, jika aku dan murid lain melanggar maka pelanggaran kami akan masuk ke
dalam buku merah dan mendapatkan poin. Jika poin kami sudah mencapai 100 poin,
otomatis akan di keluarkan dari sekolah. Sebelumnya akan mendapatkan surat
peringatan hingga tiga kali. Awalnya aku takut tidak bisa mengikuti tata tertib
itu, karena di SMP ku dahulu tata tertibnya begitu santai tidak seketat di SMA
ku.
“Hedwig Fernanda Venturini” panggi
wali kelas ku
“saya bu” jawab ku singkat
“loh, ibu kira cowo”
Iya,
banyak sekali orang yang mengiraku laki laki jika hanya melihat dari namau ku saja.
Sebenarnya nama Hedwig adalah nama salah satu pelindung yang ada di gereja. Aku
dilahirkan sebagai orang katolik. Sewaktu aku bayi aku di baptis secara katolik
dan nama ‘Hedwig’ tersebut adalah nama baptisku. Yang di berikan sesuai nama
santa yang ada pada bulan kelahiranku, ayah dan ibu memberikan nama ‘hedwig’
berharap kehidupanku akan seperti santa Hedwig. Sementara nama Fernanda
Venturini adalah nama salah satu pemain voli di luar negri. Ayah adalah salah
satu orang yang mencintai voli, sewaktu muda ayah senang sekali bermain voli
dan hampir setiap minggu bermain voli. Sewaktu aku lahir, ayah sedang menonton
pertandingan voli dan menyaksikan pertandingan Fernanda Venturini tersebut.
Ayah akhirnya memberikan nama ku itu agar aku jika sudah besar menjadi pemain
voli yang hebat seperti cita citanya yang di inginkan. Mm, namun apa boleh buat
aku hanya bisa bermain voli bersama teman teman ku tetapi aku tidak mempunyai
bakat untuk bisa menjadi pemain voli yang hebat.
Selama
di SMA aku masuk 10 besar kecuali pada kelas 1, teman teman di kelasku pada
semster 1 bisa dikatakan anak anak yang pintar semua di bandingakan dengan
kelas lain. Dan nilaiku pun pas pas an karena aku baru beradaptasi dengan
sekolah baru ku itu. Saat penjurusan untuk ke kelas 2, aku memilih mengambil
jurusan IPS. Entahlah aku lebih suka IPS dibandingkan IPA dari SD.
Ayah
memaksa ku untuk mengambil jurusan IPA karena menurudnya jurusan IPA akan mudah
masuk ke semua jurusan nanti saat kuliah. Sementara IPS terbatas dan dikit,
tetapi aku tetap memilih IPS. Ibu mendukungku saat aku ingin mengambil jurusan
IPS, kata ibu yang terpenting aku benar benar bisa bertanggung jawab dengan
pilihanku sendiri. Nilai yang aku dapatkan pun harus bagus karena itu pilihanku
tanpa ada paksaan. Akhirnya ayah mengalah dan membiarkanku mengambil jurusan
IPS, ayah takut jika dia tetap memaksa ku mengambil jurusan IPA malah akan
membuatku malas belajar dan tidak mendapatkan hasil yang maksimal nantinya.
Kelas
IPS di sekolahku hanya ada 2, karena teman teman seangkatanku lebih memilih IPA
dibandingkan IPS. Aku juga bingung mengapa mereka milih IPA hnay untuk gaya
gayaan saja. Agar mereka di pandang sebagai anak IPA yang pintar, padahal kata
guruku kualitas anak IPS angkatnku lebih bagus dibanding dengan anak IPAnya.
Iya, karena semua anak IPS itu merupakan pilihan mereka, tidak ada anak yang
masuk IPS karena nilai yang memaksanya msuk IPS. Bisa saja anak IPS angkatanku
memlih IPA semua, hanya saja kami lebih memilih IPS.
Di
jurusan IPS aku mulai mengenal Akuntansi, sebenarnya aku malas dengan hitung
hitungan. Aku bisa mengerjakannya namun jika aku sudah malas aku pasti tidak
akan teliti dalam menghitung. Awal pertama mempelajari akuntansi aku mulai
tertarik karena guru ku mengajarkannya dengan cara yang begitu gamapang tidak
seperti guru guru ku yang lain. Aku mulai bisa membuat laporan laporan keuangan
dengan benar.
Masuk
kelas 3 aku mulai lelah bersekolah di sekolahanku. Entahlah, tata tertib itu
yang membuatku tidak betah dan ingin pindah sekolah. Namun apa boleh buat aku
sudah kelas 3 dan tidak mungkin pindah sekolah karena sebentar lagi aku akan
menghadapi UN. Untuk menghadapi UN sekolah mewajibkan muridnya untuk mengikuti
pelajaran tambahan. Aku sebenarnya lelah mengikuti pelajaran tersebut. Sekolah
ku pulang pukul 13.35 lalu istirahat 15 menit untuk makan dan langsung dilanjutkan
pelajaran tambahan sampai pukul 4. Itu dilakukan setiap hari dari hari senin
sampai kamis.
Banyak
teman temanku yang mngeleluh dan meminta istirahat kepada guru guru agar
diberikan libur sebentar saja. Namun apa boleh buat, permintaan kami pun tidak
di dengar oleh guru guru. Mereka malah memberikan soal soal latihan yang lebih
banyak. Mereka menganngap angakatan ku terlalu bersantai tidak seperti angkatan
angkatan yang sebelumnya.
Banyak
teman temanku juga yang sudah mendaftarkan kuliah di perguruan tinggi swasta,
sebagai cadangan jika tidak di terima di perguruan tinggi negri. Sebarnya aku
tidak tertarik dengan PTN, aku ingin kuliah di Yogyakarta tempat kedua
orangtuaku berasal. Tetapi ayah melarangku karena aku di anggapnya tidak bisa
mandiri. Akhirnya aku yang mengalah, aku mencari perguruan tinggi di sekitar
Bogor tetapi tidak ada satu pun yang menarik hatiku untuk masuk.
Akhirnya
aku memilih Gunadarma, dan aku mendaftar masuk ke sana. Alasanku masuk
sebenarnya karena jaraknya yang tidak jauh dari rumah dan masih dapat di
jangkau dari Bogor. Karena aku yakin jika aku memilih yang jauh ayah tidak
memperbolehkannya. Adu pun diterima lewat jalur raport dan mendapatkan potongan
yang lumayan besar. Ternyata Gunadarma menyediakan Try Out dan bisa menjadi
tempat untuk masuk kesana dengan potongan yang lebih besar lagi. Akhirnya aku
pindah ke jalur Beasiswa.
Dan
disini sekarang aku berada, di universitas Gunadarma. Menuntut ilmu untuk masa
depanku, yang aku harapkan sekarang adalah aku mendapatkan ipk yang memuaskan
sesuai kemampuanku. Lulus dengan membanggakan kedua orangtuaku, dan kelaknya
aku akan menjadi orang yang berguna untuk diri ku sendiri dan orang orang
disekitarku yang membutuhkan aku.
Puisi
Tanpa
mu
Entah
apa yang akan terjadi
Jikalau
engakau tidak disisiku
Mungkin,
hampa
Mungkin
juga gelap
Ibu....
Dalam
doaku selalu terselib nama mu
Dalam
jalanku terlitas wajahmu
Dalam
kesendirianku tercium aroma tubuh mu
Ibu......
Tanpa
mu, entah apa yang terjadi
Hanya
sebuah kata yang yang aku bisa beri padamu ibu
Terima
kasih
Tanpa
mu, aku bagai anak yang tak tahu jalan pulang
Untumu
Ayah
Lamunanku
membuatku teringat akan kau
Melambung
jauh berada di sisi mu
Berada
si sebalah perisai bagai keluarga
Ayah....
Bantu
aku mewujudkan semua mimpi mimpi mu
Serta
harapan harapan yang engkau berikan di pundaku
Ku
terus berjanji takan hianati pintamu
Ayah....
Bantu
aku menjadi orang yang hebat sepertimu
Seperti
bintang di tengah tengah malam
Seperti
bulan yang setia kepada bintang
Ayah....
Untukmu
aku berjuang
Untukmu
aku akan menggapai anganmu
Komentar
Posting Komentar